Pages

Showing posts with label Bogor. Show all posts
Showing posts with label Bogor. Show all posts

Sunday, June 29, 2014

Peppino: Bukan Untuk Keluarga

Bukannya gue mau creepy atau gimana tapi atmosfirnya memang sangat 'bar' meskipun mereka punya paket Ramadhan yang super top.

Peppino House adalah resto, cafe dan bar yang baru dibuka tanggal 1 Juni dan berlokasi di Jl. Paledang No 41 Bogor atau persisnya sebelah Dinas PU, seberang jembatan dekat Gumati. Sebelum bertransformasi jadi Peppino, bangunan ini adalah rumah lama yang berkali-kali ganti penyewa tapi gak ada yang laku. Gue hapal banget semua informasi ini karena Peppino cuma berjarak 1 bangunan dari SD gue muahaha.


Salah satu sudut di lantai 1 belakang
Kesan pertama, wah gelap ya! Tangganya tinggi-tinggi pula.
Tidak ada tempat makan di lantai 1 bagian depan karena digunakan untuk dapur dan reception, I guess.

Lalu gue dan Ibu pun naik ke lantai satu setengah dan langsung menuju ke lantai satu bagian belakang untuk ke musholla. Di area yang cukup 'tersembunyi' lah identitas asli Peppino tersajikan. Hip banget buat jadi bar!


instagram makes me an artsy

Selagi nunggu Ibu sholat, gue foto beberapa sudut di bagian belakang ini.


Ada beberapa pajangan menarik mengenai beer. Muahaha, berasa Jerman.

Sudut paling belakang terlihat cukup comfy dan ada gudang untuk menyimpan alat musik di sebelah musholla.

pasta udang dan dream shake

Bagaimana untuk makanannya? TOP!
I LOVEEEE THEIR PASTA! I LOOVE THEIR DREAM SHAKE

dream shake!

goddess

Harga dream shake Rp 28.000 belum pajak dan pastanya sekitar 45ribu juga belum termasuk pajak.

Ibu sendiri memesan nasi bakar tuna + ice tea + soup + dessert yang ada dalam paket bukber 3 khusus Ramadhan.

Paket ini super banget karena soupnya full size dan dessertnya pun bukan puding kecil saemprit tapi 1 pancake kurma dan ice cream! Yeay, paket bukan berarti murahan!


Kita cuma bisa milih soup sih sedangkan untuk dessert ditentukan mereka. Gue gatau apakah menu dessert diganti daily atau tetap. Harga paket ini cukup Rp 38.000 saja belum termasuk pajak.


So, Peppino bukan untuk family dan belum untuk party karena masih Ramadhan. Tapi buat anak muda yang cari venue buat sweet seventeenan dengan harga super dan tempat hip, rasanya Peppino cocok banget!


Monday, August 19, 2013

Harvest Cakes - Pegawainya Tak Semanis Kuenya


Gue selalu menyukai segala cakes dan dessert yang creamy. Anything, asal ga mengandung buah dan bukan black forest karena itu ada buahnya. Nah ini adalah kisah tentang brand yang dulunya jadi favorit gue.

Jauh sebelum gue kenal dahsyatnya Cafe Sweets, Hong Kong Cafe atau bahkan the very standard cakes of Starbucks, Ibu pulang ke rumah bawa Harvest Cakes Triple Chocolate. Rasanya yang enak, creamy dan perfect membuat gue kagum banget sama kue ini. Dulu cakes itu umumnya roti biasa yang cenderung bolu-based, belum jamannya red velvet atau kue yang harus selalu dingin biar ga meleleh dan berair macem produk Harvest.

Saking enaknya, cakes 20x10cm itu gue habiskan sendirian. Lalala, rasanya orang rumah yang lain cuma makan 3-4 potong.

Nah, minggu berikutnya Ibu kembali bawa Harvest Cakes. Kali ini Tiramisu. Gue sempet bete karena gue ga doyan bubuk pahitnya tapi Ibu bilang "Ih ini enak, coba dulu deh!" dengan terpaksa gue coba... Dan ternyata memang beneran enak banget. Sejak saat itu, gue bahkan menjuluki Harvest Cakes sebagai kue surga. Agak lebay tapi gimana dong, itu kan kejujuran anak SD :p Lagipula rasa produk Harvest memang jauh diatas standard cakes di Indonesia, well lagian Harvest emang bukan standard brand sih. They sell premium cakes. 

Gue mulai penasaran dengan outlet Harvest Cakes. Akhirnya Ibu ngajak gue untuk ke cabang Jl. Sunda, cabang yang selalu dia kunjungi karena dekat dengan kantornya. Gue masih ingat first impression saat gue mengunjungi outlet Harvest. Pegawai yang menyapa dengan ramah diselingi jokes kepada gue dan Ibu. Gue juga kagum dengan berbagai jenis cakes yang ada dan tampak sangat yummy. Sayang seribu sayang, gue ga bisa memilih dengan leluasa karena banyak cakes yang harus buru-buru masuk kulkas. Agak kecewa sih cuma karena rumah jauh di Bogor jadi ga bisa beli ice cream cakes, tapi toh pilihan cakes dengan ketahanan 4jam di luar kulkas cukup memuaskan. 

Hidup gue pun mulai ga bisa lepas dari Harvest. Kalo Ibu nelpon dari kantor dan nanya mau dibeliin apa, pasti gue bilangnya Harvest aja. Belum lagi line Harvest yang baru gue kenal beberapa tahun belakangan sukses bikin gue makin addicted yaitu Vanilla Sable cookies. Akhirnya gue khatam berbagai produk Harvest. Bahkan gue sempet minta Oreo Ice Cream Cakes dari Harvest di hari ulang tahun gue yang ke 10 karena penasaran banget sama rasanya dan gue adalah maniak Oreo tapi ga pernah bisa beli karena again, rumah gue di Bogor dan gue selalu ke outlet Jalan Sunda.

Berkunjung ke Harvest was always nice. WAS. Sampai akhirnya segala good impression itu dihancurkan oleh Harvest Cakes Bogor yang duh, lebih dari menyebalkan. Gue ga cukup puas dengan hanya mengatakan 'pelayanan buruk' setelah berbagai pengalaman yang baik di cabang lain. Semua excitement atas pembukaan cabang baru Harvest yang finally deket rumah gue itu hilang berganti oleh kekesalan tiada akhir.



Itu adalah suasana outlet Harvest Cakes Bogor tanggal 12 Agustus 2013 sekitar pukul 12.00
Tidak ramai. Seriously, puncak keramaian outlet tersebut udah lewat.

Jadi... Sama sekali tidak ada pegawai yang ramah menyapa. Boro-boro nyapa, senyumpun engga dan itu merata alias semua pegawai saat itu di area lantai 1 memberikan kesan jutek yang sama. Dimulai saat gue akan order es krim. Ada mas-mas di belakang etalase es krim tapi dia sangat cuek melihat 3 orang berdiri di depan etalase es krim. Cuek. Gue panggil sekali, jawabnya "Bentar." beberapa menit, belom tampak gue bakal dilayani. Akhirnya gue panggil lagi, baru deh nengok dan itu pun ga langsung take order.

Berlanjut ke kasir... Ini sangat lelet dan jutek. Dia harus ganti roll nota karena saat itu habis dan dia bahkan ga punya cutter. Jadi gue sempet nunggu dia berusaha buka gulungan roll nota tersebut, wasting time. Belum lagi muka tertekuk dan terima kasih yang not even sincere.

Saat gue mau nambah orderan, mas-mas yang bertugas untuk take order di bagian cake sedang berbicara dengan pelanggan lain. However, setelah dia beres dengan pelanggan tersebut, dia tidak langsung mencatat order gue padahal saat itu tidak ada antrian pelanggan maupun fans beliau. Z.

Aa-aa di bagian pengambilan cakes sempet manggil nama yang sama dengan nada bete beberapa kali dan ga ada yang dateng. Ternyata dia manggil gue, dengan ejaan yang salah. Ketika gue datang untuk mengambil 1 slice Red Velvet gue, dia dan gue jadi sama-sama bete, galak + jutek. Yuk bete-betean, om! Pasang soundtrack Bete-nya Manis Manja sekalian.

Gue lalu kembali duduk menunggu cakes orderan yang tersisa (1 Triple Chocolate biggest size - size berapa tuh, gue lupa) yang sangat lama karena ternyata orderannya sempat salah wording atau gimana, entah. Ibu gue sampe ga tahan dan marah. Sambil menunggu, gue pun menulis ke Twitter dan contact resmi di website Harvest Cakes. I got my tweets replied from their online team but there's no follow up from the related outlet. I expect nothing but from the way they treat their customers, I can see that they just want to sell products. High quality products, fullstop.

There's no commitment nor willingness to take care of their service quality. Gue ga bisa directly judge satu persatu karena mungkin si mbak kasir capek belum libur lebaran sama keluarga, si mas es krim lagi kepanasan meski berdiri deket-deket es krim, lalu akang bagian cakes lagi bete karena pelanggan banyak nanya atau aa yang di station tempat pengambilan order deket macarons bete ditanya-tanya pelanggan yang berapi-api mulu karena orderannya lama dateng. Tapi is that the right excuse to not prioritize the satisfaction of your customers? Bahkan meski mereka bergerak bukan di bidang jasa.

Dengan begini, cerita manis gue tentang kue surga berakhir. Karena siapa yang mau sih beli kue yang meski rasanya surgawi kalo yang jaga macem satpam pintu neraka?