Pages

Showing posts with label Korea Public Sign. Show all posts
Showing posts with label Korea Public Sign. Show all posts

Thursday, May 3, 2018

Kamera Tersembunyi, Musuh di Korea

Bukan rahasia lagi bahwa Korea memang sangat akrab dengan kamera tersembunyi. Ada banyak penyalahgunaan kamera ditempat umum dan bisa ditebak, tujuan utamanya adalah untuk mengusik privasi orang alias NGINTIP!

Agustus tahun lalu, Presiden Korea menyerukan untuk menambah effort demi mengurangi dampak negatif hidden camera melalui biro persnya. Lo bisa liat beritanya disini. Selama 50 hari, tepatnya 1 July sampai 20 Agustus, ada 983 orang terkena kasus kamera tersembunyi. Sebel banget kan, hampir seribu karena musim panas anggapannya cewe-cewe pada berpakaian minim. Liat beritanya disini. Statistik lengkapnya ada disini.

diambil dari KoreaTimes
Pusing. Meski gue rasa gue bukan target karena orang sini punya standar kecantikan sendiri, gue tetep pusing.

Gue gatau isunya seserius apa sampe gue menemukan sign ini saat gue balik ke sekolah tahun 2018.

Sign di toilet KUBS
Font yang besar artinya "Dapat digunakan dengan aman" dan font Korea yang kecil "Sudah dicek dari kamera tersembunyi yang melanggar hukum". Stiker ini dipasang dipintu toilet cewe oleh BEM Fakultas Bisnis ke 51 dan "Orang-orang yang merasa terganggu" alias 불편한 사람들. Di stiker sih dibilang katanya bisa dicek cerita-cerita dari kaum yang merasa terganggu di Facebook.

Ini mengingatkan gue pada berita yang mengatakan bahwa universitas emang sasaran empuk kamera tersembunyi. Gue kira cuma di Ewha aja. Issue ini udah lama ada Ewha, setidaknya sejak gue datang ke Korea. Gue bisa paham karena itu universitas khusus perempuan. Gue lupa anak-anak di sekolah gue juga jadi sasaran predator... Hmmm.

Inilah mengapa HP di Korea ga bisa dimatiin bunyi shutter click kamera HPnya. Soalnya banyak penyalahgunaan. Ini juga alasan kenapa gue gamau beli HP di Korea. Ga kece kan punya iPhone dengan suara kamera nyaring. Anyway! Selalu waspada dimanapun dan kapanpun. Be alert!

Sunday, March 18, 2018

Stop Liat HP!


Gue menemukan iklan ini saat lagi berdiri di subway Line 2 Seoul. Tulisan merah di kiri artinya "You yang liat HP doang!"

Lalu tulisan disebelah kanan berseru begini "Jodoh sejati lu ada disebelah lu pun lu ga bisa liat dan bakal kelewatan ㅠㅠ terkadang dibanding HP (aja) liat lah sekeliling lu"

Deep banget kan? Iya dong. Ini emang rutinitas warga Seoul. Ketika lu commute dengan subway atau bus, lebih banyak terasa sunyi dari obrolan karena orang sini hobinya bergadget ria. Gue jarang menemukan yang ngobrol fun keras-keras, kecuali dia emang sekumpulan om-om yang biasanya habis minum.

Mengartikan kalimatnya ga semudah itu karena frasa jodoh sejati atau a match made in heavennya pake peribahasa empat kata, yaitu 천생연분. Tapi ternyata ga perlu tau arti pasnya, karena melihat kalimat keseluruhan juga bisa mengira-ngira bahwa ini ngomongin jodoh. Oh well, cukup urusan linguistiknya. Intinya: perhatikan lah sekeliling lu. Jangan sampai kesempatan yang ada terlewatkan.

Tuesday, June 6, 2017

Toilet dan Perempuan

Gue suka heran menemukan sign 'women-friendly'. Maksudnya, emang dulu infrastruktur disini separah apa sih? Kenapa women-friendly begitu diagungkan?



Gue nemuin sign ini di toilet. Judulnya dramatis. Seoul yang menyenangkan buat wanita. Intinya, toilet ini women-friendly. Jumlah toiletnya (jadi) lebih banyak, maka semua bisa merasa nyaman. Yes, gue boleh paham kalo ini temporary campaign, tapi kalo permanen?

Berikutnya adalah spanduk raksasa di toilet laki-laki. Gue ga inget kenapa gue iseng banget sampe moto ginian.



Kalo kepo silahkan dizoom. 

Intinya lagi ada petugas wanita yang bersihin, silahkan tunggu sebentar. Nah kalo sign ini gue suka banget, penuh respek. Kadang gue suka kaget ngeliat mas-mas bersihin kamar mandi cewe. Bukan rasis bukan apa, cuma gak kebiasa aja. Kalo toiletnya kosong sih terserah, lah kalo lagi full operation?

Sesunggunya masih banyak hal-hal aneh yang gue temukan di toilet. Nanti gue update lagi muahaha.

Tuesday, May 30, 2017

Forbidden Items: Yakin Lu?



Gue nemuin sign ini di toilet Universitas Sejong. Awalnya ga ada yang salah, sampe akhirnya... Forbidden items? Oke kalo dia tulis garbage, gue paham.

Tapi siapa juga yang mau ngeflush HP atau kartu kredit ke toilet? Seriusan?

Percayalah. Bukan kali ini aja sign di Korea suka aneh-aneh.

Wednesday, March 22, 2017

Dari Korea ke Inggris Naik Kereta

Minggu lalu gue jalan-jalan ke pinggir Seoul, tepatnya Gwangmyeong. Saat gue nunggu bis, gue liat iklan ini dan gue pun mendekat dan mikir, "Wait ini beneran kah???"

Taglinenya berkata "Stasiun antar benua untuk keberangkatan ke Eurasia - Stasiun KTX Gwangmyeong". Sub-taglinenya "The cuting edge of Semenanjung Korea, titik logistik spesial"
Lengkap juga disertai dengan peta yang intinya dari Gwangmyeong, bisa ke Beijing, terus nyambung ke Rusia sampe Moskow, terus lanjut Berlin, Paris dan bisa ke London.


Gue tau Stasiun Gwangmyeong emang besar dan dilewati KTX. Tapi nyambung Eurasia, really? Sampe London, beneran? Kenapa ga pernah denger? Apa karena gue udah setaun gak main ke Gwangmyeong?

Tapi siapa juga yang mau ke Gwangmyeong kalo gak ke IKEA... Anyway saat gue turun bus dan mau nyebrang ke IKEA, gue liat iklan yang sama dan bahkan lebih besar. Gue pun mulai berpikir, "Wah agresif banget nih marketingnya"

Beruntungnya hari itu gue memutuskan untuk pulang lewat Stasiun Gwangmyeong. Gue pun memberanikan diri untuk bertanya (setelah didorong-dorong Elaine) ke mbak di pusat informasi. Jawabannya, "Wah maaf. Ini belum ada. Masih dalam proses perencanaan"
"Kira-kira emang adanya kapan?"
"Kalo itu kurang tau, sekarang ini masih dalam tahap pembicaraan di pemerintah."

Gue. Kesel. Sambil. Bingung.

Eh tapi saat mau ke arah platform subway, ada lounge khusus yang didedikasikan untuk si KTX Eurasia ini. What?!

Tanpa diminta, Elaine masuk dan nanya sama tante yang jaga. Tante yang jaga punya penjelasan serupa tapi lebih informatif.
"Ini emang lagi diwacanakan sama Perusahaan X dan pemerintah. Tapi sayang, sampe sekarang pun jalur ke Korea Utara kan belum kebuka. Tau sendiri kan sekarang hubungannya lagi menegang. Kalau kebuka, pasti bisa lebih cepat dan menguntungkan kedua belah pihak."
"Oh gitu. Tadi saya liat iklan dimana-mana makanya saya jadi penasaran sambil mikir, ada ya?"
"Iya, pemerintah berpikir kalau banyak iklan dan banyak masyarakat yang ingin tahu, bukankah nanti bisa membuat jalur ini terwujud lebih cepat lagi? Ada minat dengan isu ini?"

Wah ternyata politik juga. Jujur gue bingung, masih tahap perencanaan udah sewow ini. Seakan-akan mau bikin jembatan Jawa-Sumatera terus iklannya udah dari Lampung sampe Bogor, tapi ternyata jawabannya "Maaf, ini sebenernya masih dibahas di DPR. Cuma biar banyak yang kepo, jadi diiklanin gede-gedean, manatau bisa kasih pressure biar lebih cepet jadi."

Gue salut dengan approachnya. Mungkin kalau berhasil bisa ditiru, tapi untuk sementara jangan ketipu dulu. Ditunggu, ke Beijing naik kereta!
(Mau bilang London tapi kejauhan ah, naik pesawat aja capek)

IKLAN: LIAT #alirajalanjalan ke SMA di Korea, Gwangmyeong dan Hangang disini ya!

Thursday, January 12, 2017

1000 Hari Tenggelamnya Sewol

Mungkin lo tau atau gatau kalo ditahun 2014 ada tragedi kapal feri tujuan Jeju yang tenggelam di Korea. Penyebab tenggelam, kenapa dan gimana silahkan cari sendiri. Yang gak banyak orang tahu adalah ada 9 badan yang gak ditemuin atau terperangkap di kapal. Demi 9 badan itu, protes berlangsung selama bertahun-tahun.

Gue kira, "jir lebay amat, kalo kecelakaan pesawat juga gak bisa nuntut kek gitu"
Sebagai orang Indonesia yang terbiasa denger berita pesawat jatuh, kapal tenggelam, bis masuk jurang, bencana ini cuma satu diantara banyak kecelakaan yang pernah gue denger. Buat Korea, ini masalah besar yang mencoreng sejarah.

Korbannya ratusan siswa yang mau piknik. Tapi ternyata, itu cuma sebagian dari masalah yang ada soal misteri tenggelamnya kapal Sewol ini.

Respon pemerintah dianggap sangat lambat dan berkontribusi buat makan korban lebih banyak.
Udah lebih dari 1000 hari sejak kapal ini tenggelam, alias hampir 3 tahun, tapi masih ada grup yang setia buka stand di Gwanghwamun, plaza tersentral di Seoul, tiap hari. Konon mereka orang tua dari korban.

Awalnya, tuntutan mereka selama setahun pertama adalah buat pemerintah untuk ngangkat bodi kapal Sewol ini dari dasar laut. Pemerintah nolak dong, mahal dan susah. Gue rasa logis juga. Inget tragedi Adam Air? Apa ceritanya kalo keluarga penumpang nuntut pemerintah buat ngambil bangkai pesawatnya, disaat ngambil blackbox aja biayanya udah melambung?

Eh tapi akhirnya dilaksanain juga. Tuntutannya melebar. Masih ada hal-hal yang HARUS diklarifikasi.


Gue sendiri baru sadar kalo udah lebih dari 1000 hari karena gue liat poster ini di stasiun subway.

Lo mungkin ngikutin kalo di Korea lagi gencar banget protes pemerintah. Nah, Sewol masuk ke dalam salah satu penyebab dan tuntutan demo yang dibawa. Presiden sempet hilang selama 7 jam dihari kejadian kecelakaan. Well, gue pikir, apa hubungannya? Kenapa semua salah Presiden? Capek amat jadi Presiden?

Bukannya anggap sepele. Tapi coba ada feri tenggelam di laut Jawa, kaya waktu arus mudik. Terus apa Presiden kita langsung tau? Biasanya kan engga. Nah, yang gue pahami di Korea ada sistem hirarki. Konon, bantuan SAR ga bisa langsung bergerak karena belom ada perintah dari Boss besar. Jadi respon SOS tunggu perintah Boss, dan Bossnya gatau kemana. Semacam itu.

Pesan yang dibawa adalah: Jangan lupa.

Jangan lupa dan jangan ulangi tragedi ini.

Rumah untuk Generasi Muda

Sejak gue nulis seri Korea Public Sign, gue baru sadar ternyata Seoul (atau Korea) punya banyak banget iklan layanan publik dan isinya seru-seru. Kemaren gue nemuin ini, dan sejujurnya, gue ga gitu paham isinya apa selain policy untuk anak muda.

Cuma ukurannya terlalu gede buat dilewatkan.

Ada kata anak muda, jadi somehow tertarik
Baru gue terjemahin, ternyata ini policy perumahan terbaru untuk bantu anak muda bisa dapet rumah di deket stasiun subway dengan harga yang masuk akal. Gila, sebenernya gue gapaham juga kenapa perlu policy kaya gini.

Sebagai background, di Korea emang ada trend lebih banyak orang yang keluar alias pindah dari Seoul daripada yang masuk Seoul. Ini dikarenakan sewa rumah di Seoul yang gamasuk diakal. Mahal banget terus tahun lalu gue sempet baca, anggap lo nabung 100% gaji rata-rata lu buat beli rumah, ga ada keluar uang buat makan, transport atau apapun, baru bisa beli rumah di Seoul setelah 12 tahunan.

Astaga kalo nikah, anak udah SMP lagi...

Kos-kosan gajauh beda. Kamar di sekitar univ gue rata-rata sebulan 500 ribuan alias 6 jutaan sebulan. Sedangkan di Indonesia, itu gaji fresh graduate di kota-kota pulau Jawa. Makan apa? Transport gimana?

Alhasil banyak orang yang bela-belain tinggal jauh dari kantor atau sekolah, demi cari yang lebih murah. Cuma ini kan ga sehat dan buang-buang waktu, jadi capek dijalan. Gue di Bogor tinggal 30 menit dari sekolah dan naik angkot tinggal duduk dari depan rumah sampe depan sekolah aja masih pengen sekolah yang ada di depan komplek... 


Katanya, ini ditujukan buat mahasiswa, orang-orang yang baru masuk ke society (ini agak awkward dibahasa Indoin, tapi maksudnya generasi yang baru tau dunia setelah seumur hidup sekolah doang) dan pasangan yang baru nikah. Intinya adalah pengembangan perumahan murah yang bagus (re:layak) buat dihuni.

Kapan nih? Sayangnya gak sekarang... Ini program buat tahun 2030...
Dibanding sad, gue lebih tertarik sama line kecil kedua dibawahnya. Pemerintah Seoul mau ngembangin budaya carsharing (bukan ridesharing kaya Uber ya! Gue baru belajar nih!), jadi di perumahan itu nanti targetnya ga ada mobil. Mereka mau ngembangin ekonomi daerah lewat komunitas anak muda. Menarik juga.

Selain itu, disebut juga kalo bakal ada kemudahan atau deregulasi buat pelaku bisnis atau entrepreneur muda sebagai part dari benefit policy ini. Wey, rada jauh.


Nah, pusing kan kalo ngomongin policy secara teknis. Mending ngomongin impact yang diharapkan.

Si mbak yang pertama bilang, karena beban sewa rumah berkurang, jadi bisa fokus belajar.
Mas kedua bilang, karena rumah deket stasiun, berangkat dan pulang kerja jadi nyaman.
Pasangan yang terakhir bilang, di Seoul bisa mulai atau bangun 'My Home' tanpa beban.

Pengen tinggal di Seoul? Pikir lagi.

Wednesday, November 30, 2016

Sumbangan ala Korea

Hari ini gue nemenin Bondan ngisi kartu transportasi di stasiun subway Korea University dan gue baru sadar ada boks di sebelah mesin rechargenya. Boks sumbangan lebih tepatnya.

Kotak sumbangan sosial ala sini
Gue awalnya tertarik karena tulisan '모금함' meski sebenernya gue sendiri gatau itu apa. Gue taunya '모금 운동' itu artinya kampanye galang dana. So dari situ plus ngelirik atasnya ada tulisan '기부캠페인' alias kampanye berdonasi, gue menyimpulkan ini kotak donasi.

Yang menarik, gue gak sempet ngezoom kenapa ada gambar brisket arang sama susu disitu. Gue udah jalan sama Bondan buat naik bis, eh gue liat hasil fotonya kurang jelas, sampe akhirnya muter balik lagi buat tau itu apa.



Nah ternyata bukan sekedar minta donasi uang. Tertulis 'Kampanye Berdonasi Tiket Subway Sekali Pakai' diatasnya, dengan sub-header 'dibandingkan refund 500 won, lebih baik disumbangkan untuk kebahagiaan yang lebih besar'.

Buat yang belum familiar, disini kalo pake tiket sekali pakai, ada deposit senilai 500 won. Kita bisa tebus balik di mesin refund yang ada di setiap stasiun.

Wah. Menarik. Mereka minta tiket sekali pakainya dimasukin aja, dan bahkan ga nyuruh kita buat refund dulu.

Tertulis nilainya juga. 1000 won bisa beliin 2 brisket arang buat orang tua yang gak punya rumah. 5000 won bisa beliin 10 pack susu buat anak-anak yang kelaparan dan 10,000 won bisa beliin makan 1 hari untuk remaja yatim piatu.

Dibawahnya tertulis juga sistem donasi mereka. Boks ini ada di stasiun kereta dan kantor pos seluruh Korea. Boleh juga donasi tunai, ga harus tiket subway. Kampanye bertajuk wujud nyata cinta ini ditujukan untuk membantu anak-anak, remaja, orang disabilitas, orang tua, keluarga miskin dan lain-lain.

Wah menurut gue sih idenya keren banget tapi kenapa ga pernah ada yang sadar ya? Atau gue yang terlalu iseng...

Ayo mulai berdonasi!

Tuesday, November 8, 2016

Seongbuk Sayang Orang Tua

Korea adalah negara yang populasi orangtuanya sangat besar. Populasi Korea dilihat dari data Kosis (website statistik Korea, super keren!) ada 51,67 juta orang dan 10 juta orang berusia diatas 60 tahun.

Dari bis Seongbuk 20

Makanya ada banyak banget program untuk lansia dan kebijakan-kebijakan soal pensiun. Nah, gue menemukan sign ini saat naik bis 'kecamatan' Seongbuk. Seongbuk adalah kecamatan dimana gue tinggal.

Tulisan disimbol hati artinya "Kota (dimana) orangtua bahagia, Seongbuk"
Line pertama "Kalau ditelpon, (perasaannya) senang"
Line kedua "Kalau disapa, (perasannya) senang"
Line ketiga "Kalau (datang) dicari, (perasaannya) senang"

Menurut gue ini dalem banget. Mayoritas orangtua, nyokap gue ga termasuk, kalo ditanya "Apa kabar?" pasti jawabannya positif atau netral dong karena gak mau bikin anaknya kepikiran. Tapi kadang karena dikasih jawaban monoton dan standar macam itu, anaknya suka gatau diri dan lupa bahwa orangtua seneng loh sekedar dikasih perhatian kecil semacam itu.

Meski ada banyak rumah jompo, ada lebih banyak lansia yang tinggal sendiri disini. Denger-denger karena gak mau nyusahin anak atau emang ditelantarin anaknya. Ya mungkin biasa aja karena mereka sehat dan tetep punya komunitas, tapi gue pernah ketemu nenek yang masuk UGD dengan dibawa 3 orang petugas 119 (semacam 911nya sini). Pas ditanya sama suster, "Dateng sendiri?
Dia jawab, "Iya"
Suster nanya lagi, "Tinggal sendiri?"
Nenek jawab, "Iya"
Terus susternya nanya, "Ga ada pendamping/guardian?"
Neneknya jawab dengan agak kesel, "Ga ada"

Sedih. Sedih liatnya karena gue aja sedih loh ke rumah sakit sendirian. Sedih juga hal sesimple ini harus dibuat campaign. Tapi inilah salah satu fenomena di Korea dan pemerintahnya (untung) sadar. Semoga orangtua makin bahagia dan disayang anak-anaknya jangan ditelantarin!

Friday, October 21, 2016

LPS Versi Korea

Sign soal jaminan simpanan

Gue selalu hobi liat simbol-simbol dan iklan sosial di sekitar gue. Gue menemukan ini di samping ATM. Di Korea, simpanan dijamin sampai dengan 50 juta won (saja) atau sekitar 600 juta rupiah per orang. Sedangkan di Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjamin sampai 2 miliyar rupiah. Interesting.

LPS versi Korea adalah Korea Deposit Insurance Corporation (KDIC). Kalo kepo, website mereka cukup informatif dan rapi.

Tunggu sign berikutnya dilabel "Korea Public Sign"!