Pages

Sunday, July 7, 2019

Instant K-Beauty: V-Line

Udah bukan rahasia lagi kalo ada banyak banget trend aneh-aneh dari kecantikan Korea. V line lah S line lah... Semua dibikin line. Terus obsesi soal double eyelid juga ga ada abisnya.

Gue bukan orang yang peduli dengan kecantikan, gue juga takut dengan operasi plastik apalagi kalo harus mengikis dagu buat V Line. Tapi gue ngamatin perkembangan trend kecantikan di Korea, sampe akhirnya gue kerja di dunia kecantikan ini.

Sejak kerja disitu, ada banyak insiders' tips yang gue mau bagiin. Contohnya mask pack dan krim-krim muka itu kebanyakan chemical jadi efeknya minim banget. Bisa dibuat lebih kuat, tapi nanti perusahaan kosmetiknya rugi. Jadi dari pengalaman gue, mending lu treatment 2x setaun terus pake skin care yang biasa-biasa aja. Pernah tahu V-Line mask? Itu juga efeknya singkat banget karna kulit lu susah berubah teksturnya dgn treatment dari luar gitu... Ya beauty is pain, beauty is effort cyin.

Nah soal V-Line, gue baru tau treatment di Korea lagi ngehits banget yaitu: SHURINK!

Pernah denger?

Gue juga baru denger pas ke klinik kecantikan... Ini apaan sih?

Hmm bahasa manusianya sih laser buat efek lifting alias ngencengin muka. Ada juga temennya, Ulthera dari Amrik, tapi lebih mahal. Jadi Shurink asli Korea ini lebih laku. Nonton video Jang Teacher nyobain Shurink disini. (Wassup Man fans mana suaranyaaaaa?)



Ternyata harganya ga mahal-mahal banget. Definitely worth dicoba.

Bentar, ini apa sih sebenernya? Bahasa akademis gue kayanya ketinggian, jadi cobain aja baca diblog kantor aing disini. Prosesnya kurang dari setengah jam sih tapi lu harus diolesin numbing cream alias krim anastesia dulu, biar ga sakit. Setelah krim anastesianya bekerja, dokter bakal melakukan prosedur Shurinknya sesuai dengan jumlah shots yang diminta pasien. Namanya laser, cukup kuat menembus kulit dan cuma dokter kulit yang bisa melakukan prosedurnya. Habis prosedur boleh langsung pake make up!

Ngapain orang Shurink?

Shurink ini salah satu cara ampuh buat V-Line instan. Mau cewe mau cowo, semua suka V-Line. Efeknya bertahan 3-4 bulan kalo lu ga mendadak binge eating terus makan berlebihan. Ya kalo abis Shurink terus gain 10kg, mon maap efeknya lebih keliatan yang 10kgnya...

Anyway, buat mbak-mbak tante-tante yang jarang ke Korea, kan susah buat Shurink sering-sering, lebih bagus kalo dicombine sama Liftox. Liftox tuh Lifting Botox, bahasa promosi banget kan! Lu mungkin tau artis-artis Hollywood korban botox berlebihan terus mukanya kaku-kaku... Nah kalo si Liftox ini ga bikin muka kaku atau ga natural. Tetep natural dan pastinya efek liftingnya kentara.

Mau nyobain? Boleh banget. Link promonya disini buat bulan juni pake kode ANDINI. Bukan Alira soalnya Alira belom jadi beauty blogger and masih fokus jadi anak bisnis aja. Lu kalo konsultasi lewat line resmi kantor, bisa gue kasih service yang sangat menggoda yaitu: free interpretasi Bahasa Indonesia oleh Alira selama bulan Juli!

Check beauty.jivaka.care buat klinik-klinik terpercaya dan harga transparan. Kalo lo kepo trend-trend lainya, follow instagramnya di @jivaka.care ya!

Tuesday, November 6, 2018

Yeosu: Kota yang Jarang Terdengar

Mungkin karena selalu tertarik dengan air, gue udah lama pengen ke Yeosu. Baru kesampean bulan Juli 2018. Bagi yang belom tau, Yeosu adalah kota pelabuhan di provinsi Jeolla Selatan (Jeollanamdo). Salah satu yang ujung nih, kaya Busan dan Tongyeong.

Nah ada apa sih di Yeosu selain pantai dan laut?


Susah jawabnya karena terkenalnya dengan island hopping. Suasana kotanya sendiri sebenarnya cukup damai, tapi cenderung masih tradisional. Perlu diingat, Yeosu bukanlah kota kecil. Jadi berkeliling Yeosu gak gampang karena ada banyak sudut kotanya. Gue nginep sampe 3 hari biar puas, tapi ternyata tetep ga puas.


Bagian terbaik dari Yeosu 'konon' ada didekat Yeosu EXPO. Yeosu EXPO adalah venue pameran internasional tahun 2012, tapi pameran kaya apa gimana, gue ga gitu jelas juga. Gue kesana dipuncak liburan musim panas tapi semua sepi.

Highlight: Dolsandaegyo Bridge
Gue ga bisa hiking karena perginya sama temen-temen yang ga kuat jalan kaki. So opsi island hopping pun hilang dan diganti full city tour. Highlightnya menurut gue adalah Dolsan Park, Dolsandaegyo Bridge dan Night City Tour.


Gue ke Dolsan Park sore-sore dengan naik bus city tour dan gue sangat puas dengan view dan landscapenya.

Night City Tour
City Tournya menyenangkan karena kita bisa keliling Yeosu dengan mudah. Seperti yang gue bilang, Yeosu ini gede banget. Ada beberapa stop untuk foto dan menyesuaikan cuaca. Saat itu, gue dapet cuaca yang super buruk karena hujan angin ditengah-tengah. Tapi tetap enjoy sih. Guidenya cukup informatif tapi hanya dalam Bahasa Korea. Bahasa Inggrisnya minim tapi wajar, karena hanya gue dan teman-teman gue foreigner malam itu. Padahal weekend loh. 

Bagaimana cara ke Yeosu?
Naik KTX dari Seoul Station ke Yeosu EXPO. Bisa dicoba menginap semalam di daerah Expo dan kemudian pindah ke arah City Hall.

[AKAN DIUPDATE]


Wednesday, October 3, 2018

Damainya Danau Como

Gue baru #ExploreItalia lagi dan gue menemukan mutiara baru: Lake Como. Gue adalah pecinta air dan Februari kemaren gue kepincut sama Lake Garda. Ternyata secara view, Lake Como jauh lebih cantik. Meski kalau secara hati, gue lebih cocok sama Lake Garda.

Lake Como ini... LUAS banget. Ga bercanda, kita ga bisa bilang "Mau ke Danau Como" karena pasti ada lanjutannya: danau sebelah mana?


Kesalahan gue adalah gue buta dan kurang riset soal 'sebelah mana'. Gue asal dapet penginapan rating tinggi harga murah, gue ambil. Ternyata sampailah gue ke Dervio, deket Bellano dan Varenna - area tengah Danau Como. Ga ada yang salah dari Dervio selain ga ada apa-apa. Kotanya kecil banget dan gue sampe sana hari Rabu, yang mana toko-toko katanya tutup hari Senin dan Rabu.


Besoknya baru gue ke Varenna, Bellagio dan Cadenabbia dengan pass 1 hari seharga 15 Euro. Baru deh ketauan pesona asli si Lake Como ini.

View dari ferry
Gue juga sempet lunch terbaikkk di Hotel Belvedere Bellagio. Kenyang dan puas duduk 3 jam liat view yang luarrr biasa bermodal 29 Euro.

All in all, Danau Como cocok untuk pecinta view air dan gunung kaya gue. Lebih cocok lagi buat honeymoon atau relaxing day karena damai dan gak terlalu banyak hingar bingar. Atau untuk sekedar pelarian, seperti yang gue lakukan.

(ditulis dengan setengah sadar makanya infonya tidak terlalu detail dan berfaedah)

Tuesday, September 4, 2018

Drama Urus Visa Schengen dari Korea

Hari ini gue baru beres masukin aplikasi Visa Schengen dari Seoul untuk yang kelima kalinya dalam kurang dari dua tahun. Sekali apply keluar 60 euro, jangan ingatkan itu berapa rupiah, nanti gue sedih. Masih lebih murah dari sekali apply visa Inggris yang berlaku dua tahun + express, tapi ternyata gue ke Inggris baru sekali dalam 1.5 tahun. Yak.

Terima kasih Tuhan, gue masih sabar dan gak nangis. Gue bersyukur dan selalu senang untuk kembali ke Italia. Yes, tiap perjalanan gue ke Eropa, gue pasti ke Italia. Meski begitu, gue terus bertanya, "Ini sampe lulus, asumsi setaun dua kali ke Eropa, jadi bisa 8 halaman paspor abis buat Schengen kayanya."

Perlu diketahui, gue butuh waktu berhari-hari untuk menyiapkan itinerary karena gue biasanya punya keinginan ke kota aneh-aneh, tapi modal ga banyak jadi harus sabar-sabar cari. Yang terlama tentu yang pertama, plus yang keempat karena sekalian lewat Srilanka dan Maroko. Random banget kan?

Apply pertama - Januari 2017
Masih super newbie, hanya berbekal "requirements" yang dipost Kedutaan Italia di Seoul diwebsite mereka. Ternyata salah semua, super ga lengkap. Alhasil gue bolak-balik ke tukang foto, bank, tukang print. Datang dapat antrian pertama, pulang sebagai aplikan terakhir. Selama itu.

Capek banget, tapi rasanya terlalu excited buat mengeluh atau marah. Gue masih menganggap prosesnya lebih menyenangkan selain fakta bahwa ini semua bisa diantisipasi kalo "websitenya udah kita minta update, tapi dari kementerian belom diupdate juga tuh."

Apply kedua - April 2017
Udah lebih santai, demi Tiziano Ferro. Semua udah ready. Smooth. Dapet bukti terima dibilang 20 hari juga dan tertulis multiple entries. Gue ga inget drama khusus, selain gue harus pake dulu paspornya terus gue balikin lagi (passback passport) untuk apply visa Inggris dalam waktu bersamaan. Semua terdengar menyenangkan, sampe akhirnya gue datang untuk ambil visa tersebut dan BAAAM!

Mana dapet multiple entries. Dapetnya single entry. Waktunya mepet bener. Padahal, dalam waktu 3 minggu antara masukin aplikasi dan tanggal visa jadi, gue menemukan konser Il Volo dan kemudian extend untuk melihat mas-mas itu. Mau marah karena ga sesuai receipt juga ga membuat hidup gue lebih mudah.

Gue inget gue ditemenin Bondan ambil passport, balik-balik rasanya dunia gue runtuh (exaggerated) dan sedih banget. Tapi untuk konser, dengan sabar aku pun... APPLY LAGI.

wa ampe punya quote beginian karna visa

Apply ketiga - May 2017
Masnya udah capek liat gue. Iyalah bolak balik mulu, dari pertama apply, ambil paspor, balikin paspor, ambil visa terus menjelaskan betapa aing maunya stay 20 hari, eh sekarang muncul lagi.

Setelah periksa itinerary baru gue, masnya bilang "Ini mah lu ga usah apply visa baru, kan lu cuma nambah dua hari?"
"Lah, kan dimasa berlaku visa dibilang 11 hari aja terus saya emang perlunya 13 hari?"
"Iya kalo sampe dua minggu ada spare lah, ini kan ada last validity date"
"Mmmm? Tapi disini tertulis 11 hari?"
"Iya cuma lu sayang duit aja kan 60 euro buat apply lagi, toh cuma nambahnya 2 hari."
"Mas bisa ga tolong tulis email yang bilang dua minggu gapapa, terus nanti kalo saya kenapa-napa, saya tunjukkin emailnya?"
"Wah kaga ngaruh. Kan kita kemenlu, tar imigrasi disana kementrian lain lagi. Email kita kaga akan ngaruh apa-apa"

Waduh ngana serius mas, ya nanti kalo aing kena ban atau ketangkep urusan imigrasi tanpa hukum mendasar, gimana ceritanya...

Gue akhirnya bilang, "Gapapa 60 euro gue bayar lagi daripada gue melanggar aturan dan ga bisa balik lagi. I think I bakal sering balik."

Which is true, siapa sangka gue bolak balik terus ke Eropa. Aplikasi diterima, keluar-keluar dibonusin 1 hari jadi 14 hari. Duh, semua demi nonton konser.

Apply keempat - akhir 2017
Ini. Gue stress. Soalnya gue gamau urus visa via Kedutaan Italia lagi nanti masnya bosen, tapi itinerary gue juga ga gitu jelas. Banyak sedih dan keselnya juga soalnya last minute harus ganti sanasini, berhubung tadinya harusnya berdua tapi jadi sendiri.

Akhirnya gue coba lewat Jerman, karena tiket gue emang masuknya lewat Frankfurt. Tantangannya bukan soal siapin requirements, udah apply tiga kali, ga usah liat website juga gue udah apal. Tapi susun itinerarynya itu menguras hati. Gue gatau mau gue apa, kemana. Kalo boleh milih, ya gue mending straight di Italia aja sepanjang trip. Cuma gue udah beli tiket dan penginapan yang lain, jadi wasted kalo ga dipake kan?

Gue mikir berkali-kali uang vs keinginan. Sayang uang tapi bisa explore negara baru, atau ikut keinginan tapi buang-buang uang. Akhirnya ketemu balance diantara keduanya. Ada beberapa tiket yang gue gajadi pake demi lama-lama di Italia. Tapi gue juga bersyukur gue sampe ke Brussels dan dipaksa istirahat di Madrid.

Balik soal apply, super smooth. Cuma ditanya "Marrakesh ini dimana ya?" karena ada jadwal ke Marrakesh dan bukan area Schengen. Schengen via German is my favorite so far. Ga perlu booking online dan konternya juga jelas. Cuma Jerman sih yang  harus taro semua barang di loker, jadi gue sempet harus bolak-balik ke loker karena syarat yang ketinggalan di tas.

Apply kelima - September 2018
Ga pernah gue apply visa segini mepetnya, 16 hari sebelum pergi. Untungnya Tuhan baik, negara tujuannya Switzerland. Syarat dari mereka adalah apply paling lambat 15 hari sebelum pergi. Meski gue udah merasa khatam prosesnya, tapi karena kali ini gue by invitation, gue tetep sempetin liat websitenya. Ternyata mereka minta fotokopi Visa Schengen yang pernah didapat dalam beberapa tahun terakhir dan asuransinya spesifik. Tapi karena semuanya Korean company, gue ga gitu peduliin, soalnya orang Korea kan ga butuh Visa Schengen, so asumsi gue, jualan mereka ya visa buat studi atau long term di Eropa.

Fokus ke proses Schengennya sih nyiapin syarat relatif cepet, berhubung dikejar waktu dan bukan buat jalan-jalan juga. Gue ga terlalu mikirin soal costs, karena biasanya yang lama itu flipping segala website buat cari yang termurah. I stick to Flixbus sama Expedia, cukup.

Pas proses aplikasinya, semua orang udah tau gue Alira dari Indonesia karena gue booking online (ga wajib) dan 1 hari cuma ada 3-4 booking aja. Wow, kedutaannya relax sekali, aku suka.

Proses pengecekan dokumen berlangsung agak lama dan balik-balik, ada dua masalah. Booking bus gue salah tanggal, harusnya Oktober eh malah September. Gapapa, gue sadar saat nunggu dan gue udah beli tiket bus baru. Anggaplah costs ketidaktelitian (meski sebenernya ga rela).
Masalah kedua, mbaknya bilang asuransi gue ga valid. Padahal ini asuransi udah dipake apply visa ke 5 benua, baru sekarang ditolak karena mereka ga punya kantor di Korea...

Beliau pun kasih list asuransi yang diterima oleh Gue pun jujur gue ga pernah beli asuransi dari perusahaan Korea, gue ga familiar dan gue mau beli saat itu juga biar ga sakit kepala. Pas gue buka websitenya, ga ada tuh asuransi Schengen, sesuai perkiraan gue, karena orang lokal ga butuh. Mbaknya bilang, normal overseas trip insurance cukup. Eh tapi masalah klasik, nama gue ga bisa diinput karena kepanjangan buat standar Korea.

Yasudah gue terpaksa beli dari global company yang punya cabang di Korea tanpa mikirin harga dibanding barbie pusing. Harganya dua kali lipat Tokio Marine langganan gue, sigh.

I love applying from Switzerland Embassy karena no queue, cepet jadi dan mbaknya the nicest I've met. Everyone was responsive, but particularly for her, she cared enough to ask and listen to my reasoning on applying for multiple visas, giving real solution and very attentive. She was also very helpful to help me check for the insurance that meets the requirements.

Apply berikutnya, buat Winter 2019?
Mungkin nanti ada cerita apply keenam, ketujuh, kedelapan. Semoga sebelum sampai kesepuluh, gue udah bisa dapet long term visa aja yaaa biar bisa bolak-balik dengan lebih nekad alias last minute. Saat ini, statistik mengatakan gue TIAP vacation ke Eropa. Bahkan ketika tadinya gue kira gue ga akan balik summer ini, ternyata fall diberi rejeki buat balik lagi. Nah, setelah ini, gue punya 3 vacation tersisa. Akankah ada dramanya lagi?

Pesan moral: banyak-banyak bersabar dengan urusan visa. Pengalaman tidak menjamin kelancaran. Abis apply, jangan lupa tidur untuk menebus malam-malam begadang menyusun itinerary.

Sincerely,
dari aplikan yang baru bangun tidur siang 3 jam saking lelahnya

Friday, July 13, 2018

Nongkrong di Tangki Minyak

Gue nemuin gem baru di Seoul yaitu Tangki Minyak di Mapo-gu.


Long story short, mending lu tonton dulu video singkat gue disana. Maklumin barbie yang males ngedit, intinya ingin menyampaikan bahwa tempat ini super keren. Pemerintah Seoul jago banget transformasi tempat-tempat penuh sejarah jadi public space buat warga.





ANYWAY, gue mau kasih alasan kenapa lo wajib kesini:

1. Gratis
2. Instagrammable
3. Deket World Cup Stadium, artinya lo bisa sekalian makan mie dahsyat murah di Pasar Mangwon kesayangan, sambil numpang foto di kafe Zapangi yang katanya tempat syuting NCT
4. Di sebrangnya Haneul Park, artinya kalo lu demen dan berniat photoshoot, bisa sekalian. Bawa outfit yang banyak dah
5. Unik, anti-mainstream. Bosen kan liat foto-foto orang ke Korea ke Istana n ke library indoor COEX
6. Lo bisa ngerasain jadi lokal dan betapa bersyukurnya warga Seoul dengan pemerintah yang super progresif

T3 Favorit

Rahasia jitu dan pesan nomor satu: JANGAN MAU KALAH SAMA PANAS. Yes kalo lu siang-siang kesana, mungkin males banget eksplor outdoor. Padahal ini nih bagian teruniknya. Tangki no 3 alias T3, dimana lo bisa ngintip bagian aslinya. Tapi yes, pake manjat tangga dan panas banget kalo siang.

Kapan lagi eksplor anti mainstream di Seoul?


Wednesday, June 6, 2018

Michiko Project: BEST Fish n Chips in Seoul

My last trip to Auckland makes me crazy about fish and chips. I know it may sound strange, as the best fish and chips you've tasted is probably not from the land of Kiwi but I've traveled the world and tried the fish and chips in London, but they are all sucks. I am glad I was not traumatized and decided to try fish an chips again in Auckland. It was nothing fancy, I had my first fish and chips after years from the nearby takeaway in Mellons Bay, Auckland. What an unusual way to fall in love with fish and chips.

Long story short, I cannot find fish and chips in Seoul. It was not about finding a decent one, I cannot even find a specialized fish and chips store in Seoul. So I constantly Naver-ed some places (we do not use Google here) and found some stores that sell fish and chips. I was not lucky with my first few attempts before I finally found my love a few days ago!


I am not sure how do you call this place in English? Michiko is the name of the group and Michiko Project 25 is what written on the placard. This place is called 벗꽃주택 in Korean, located in a tiny alley next to Chungjeongno Station exit 2. Just turn left after Chungjeongno Tower/Starbucks, and you'd see it.


The alley looks like the picture above.

Just walk straight for a good 1-2 minutes, and this charming little place should be on your left.




It is a small beer place with around 40+ seats only. I went there around 5PM, so there were only two other guests. They got busy after 6PM when the workers are done with the day. I read that they are famous for their beer. I certainly do not come here for a drink so I can't really tell. The two Koreans next to me said that it was excellent and cheap. 

Now the fish and chips...

They only have two sizes, Medium for 16,900 won and Large for 19,900 won. I was alone, and I ordered medium but it was a mistake. The medium was meant for two (or even three).

It takes (almost) the whole table

LOOK AT THEEEEM

The condiments
Man, it was beyond satisfying. It definitely fulfilled my craving, and I can't be more grateful that this place is less than 10 mins walk from home.


The tartar sauce was really lovely and complement the dish perfectly. I've got nothing to complain other than the fact that they should've warned me about the size. The fish? They truly did it right.

The next time you are craving for a damn good fish and chips, come here. Chungjeongno Exit 2. The best thing is they speak English right from the moment I entered. Prolly I am looking too foreign, but I did not expect this from the neighborhood. A truly hidden gem.